TEL
AVIV- Dalam pertempuran roket selama 8 hari antara Israel dan kelompok
militan Hamas yang menewaskan 166 orang di jalur Gaza itu, tak sedikit
dari korbannya adalah anak-anak. Meski gencatan senjata sudah tercapai,
manusia-manusia kecil yang diklaim sebagai “musuh” ini kini masih
berjuang melawan trauma.
Yosef yang berusia 4 tahun berbaring di
kamar rumah sakit dengan mata bersinar ketika keluarganya menceritakan
dongeng untuknya. Anak laki-laki ini menjadi trauma setelah perang di
Gaza.
Dia dan keluarganya tinggal di apartemen di Kiryat Malachi
di selatan Israel ketika roket dari Gaza menghantam dinding apartemennya
dan membuat lubang besar di dindingnya.
Ledakan tersebut
menghancurkan jari-jari kecil Yosef, melukai ayahnya dan membunuh
ibunya, Mina Scharf. Dokter di Sheba Medical Center mencoba menempelkan
kembali keempat jarinya yang putus dan harus mengamputasi 2 jari di
antaranya.
Yosef mengetahui tentang ibunya dari ayahnya, Shmuel, yang juga dirawat di rumah sakit yang sama.
“Dia
mengatakan, ‘Ibu saya tidak di sini; dia bersama Tuhan.’ Dia tahu ini
akan menjadi masa yang sulit,” kata neneknya, Chaya Sarah Scharf.
Tidak
jauh dari kamar 12 yang ditempati Yosef, seorang anak lain bernasib
sama. Bedanya Bisan al-Agrham yang berusia 8 tahun berasal dari Gaza.
Bisan kehilangan 3 jarinya ketika perang menyapa rumahnya.
“Saya
mendengar suara roket. Saya bahkan tidak sempat bertanya apa yang
terjadi dan roket yang kedua pun jatuh,” kata ibunya Soad al-Aghram.
Ketika debu-debu sisa roket hilang, dia bisa melihat tulang-tulang jari anaknya di lantai.
Anak
perempuan ini dibawa ke rumah sakit Gaza tapi sayangnya rumah sakit itu
terlalu penuh. Jadi, keluarga meminta ijin Israel untuk melewati
perbatasan. Awalnya, ibunya takut mereka akan dianggap musuh.
“Ini
situasi yang aneh dan ini pertama kalinya masuk Israel. Saya takut tapi
mereka memperlakukan anak saya dengan baik dan saya mengerti pengobatan
tidak ada hubungannya dengan politik,” kata al-Agrham.
Yosef dan
Bizan hanyalah 2 dari sekian banyak anak yang menjadi korban dari perang
antara kelompok Hamas dan Israel yang menyebabkan kerugian sebesar Rp12
triliun itu. Meski gencatan senjata telah disetujui Rabu (21/11) lalu,
keadaan di Gaza masih dianggap belum sepenuhnya aman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar